Sabtu, 26 Januari 2013

Tragedi Aisya: Produk Penyiksaan

Tragedi Aisya: Produk Penyiksaan

Oleh Khalil Fariel
21 September, 2009

Bukan rahasia lagi bahwa penganiayaan seksual thd anak kecil berakibat fatal bagi pihak korban, baik muslim maupun non muslim. Bukan lagi rahasia pula bahwa Quran secara jelas membolehkan praktek pedofilia. Utk menyadarkan Muslim akan efek bahaya dari penganiayaan anak jenis ini kita perlu bantuan sumber2 islam asli. Itu sebabnya Aisya, istri ketiga dan istri bocah paling favorit dari Muhammad, jadi model sempurna utk mengungkapkan praktek pedofilia dan akibat2nya bagi sang korban.




Dalam Islam, Aisya binti Abu Bakar dianggap sebagai ‘ummul mukminin/ibu orang2 beriman’. Sumber2 islam membangga-banggakan Aisya sebagai ‘ulama’ besar atau seorang tokoh intelek besar yang telah mengkisahkan sejumlah besar hadis. Ada kebenaran dalam klaim ini; sekitar 2.000 hadis dikisahkan oleh Aisya, Aisya menempati nomor dua setelah Abu Huraira dalam mengisahkan Hadis. Tapi, pengisahan ini tidaklah membutuhkan pendidikan tinggi, tidak perlu menjadi sarjana atau ‘ulama’, cukup ingatan tajam, toh ini cuma menceritakan kembali apa yang terjadi dan apa yg dikatakan dalam kehidupan Muhammad; dan kita akan lihat bahwa ingatan Aisya benar2 tajam. Sebaliknya, banyak juga hal dalam kehidupan Aisya yang lebih suka dilupakan Muslim jaman sekarang.

Berbeda dgn yg dibanggakan muslim,
 Aisya sebenarnya tidak pernah menjadi orang yg disukai lingkungannya. Mungkin dia bisa jadi tauladan kalau saja bukan karena keinginan birahi seorang kakek gila seks yg merusak masa depannya. Kita tidak mempunyai catatan sejarah istri2 Muhammad. Hanya kehidupan Aisya yg secara jelas dikenal dalam ajaran2 islam terutama lewat keterlibatannya dlm Perang Unta (Perang Jamal) dan kehancuran yg diakibatkannya terhadap umat muslim.

Mari kita mulai analisa kita akan Aisya dan Muhammad. Apakah dia istri yg paling baik dari ‘kumpulan’ istri2 Muhammad? Melihat bahwa dia itu paling sering ‘berontak’ diantara istri2nya, maka jawabnya mestilah TIDAK. Sumber2 islam membuktikan bahwa Aisha masih berlaku seperti anak belum dewasa diantara harem-haremnya Muhammad.

Sahih Bukhari Vol.7 Buku 62 Hadis no.145
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas: Bahwa ‘Umar memasuki rumah Hafsa dan berkata, “Wahai puteriku ! Jangan disesatkan oleh tingkah laku dia yang berbangga diri akan kecantikannya karena cinta sang Rasul Allah padanya.” Dia yg dimaksud adalah Aisya. Umar menambahkan, “Lalu kukatakan hal itu pada Sang Rasulallah dan dia tersenyum (mendengar itu).”


Umar, Kalif kedua Islam, bersaksi akan tingkah laku buruk Aisya dalam hadis sahih, memperingatkan anaknya (Hafsa) agar jangan disesatkan oleh kelakuan Aisya. Ternyata begitulah kelakuan ‘ummul mukminin’ ! Sumber2 islam juga mengatakan bahwa terjadi banyak sekali perkelahian dlm haremnya Muhammad. Para istri terbagi menjadi dua kelompok, salah satunya dipimpin oleh Aisya.

Sahih Bukhari vol.3 buku 47 hadis no. 755
Diriwayatkan oleh Urwa dari Aisya: Para istri Rasulallah terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari Aisya, Hafsa, Safiya dan Sauda; kelompok lain terdiri dari Umi Salama dan istri2 lain dari Rasul allah.


Apakah Aisya bahagia dengan tingkah Muhammad yg hobi ngumpulin istri? Lagi2 jawabnya TIDAK. Ketika tahu akan niat Muhammad menambah koleksi objek birahinya, Zainab binti Jahsh, istri dari anak angkat Muhammad sendiri, kemarahan Aisha meledak. Kemarahan ini membuat Allah harus menengahi dengan ayat2 sucinya.



Sahih Bukhari vol.6 buku 60 hadis no.311
Diriwayatkan oleh Aisya:
 Aku suka memandang rendah pada para wanita yang memberikan tubuhnya pada sang Rasulallah dan suka berkata, “Bisakah seorang perempuan terhormat memberikan dirinya pada lelaki?” tapi ketika Allah menurunkan ayat 33.51 ‘Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu.’ Aku bilang pada sang Rasulallah, ‘sepertinya Allahmu itu gesit sekali utk membantu memenuhi hasrat birahimu’.

Kenyataannya adalah, dia tidak pernah bahagia bersama Muhammad dan pernikahan mereka jauh dari yg disebut Pernikahan Surgawi. Kita punya sumber2 sahih utk membuktikan ini.

Aisya pernah berkomplot melawan Muhammad, dan ini bisa dianggap sebagai perlawanan terhadap islam itu sendiri.

Sahih Bukhari vol.6 Buku 60 Hadis no.436
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas: Aku bermaksud bertanya pada Umar, kataku, “Siapa dua wanita yang mencoba melawan sang nabi?” belum lagi aku selesai berkata, dia menjawab; Mereka adalah
 Aisya dan Hafsa.”

Bahkan dikala Muhammad masih hidup sekalipun, Aisya sudah berfitnah terhdp islam dan bersama-sama Hafsa, berani melawan Muhammad. Sekali lagi, Allah dengan cekatan memakai ayat2 saktinya utk menengahi, turunlah beberapa ayat dalam surat At-Tahrim.

Sejauh ini kita telah melihat sumber2 islam dan bagaimana sumber2 itu menggambarkan Aisya, tapi jika kita melihat lebih jauh kedalam hadis yang Aisya riwayatkan sendiri, isi dan garis besar hadis2 itu hampir selalu mengandung hinaan tersembunyi terhadap islam, malah sering kita dapatkan ejekan dan sikap merendahkan terhadap suaminya. Ini bukan sekedar propaganda, tapi fakta yang semua orang bisa lihat sendiri. Dibawah ini hanya beberapa contoh saja:

Aisya bilang
 Muhammad dipengaruhi ilmu sihir, dan sihir dianggap sebagai kerjaan setan, dg demikian dia sebenarnya mau bilang bahwa Muhammad berada dalam pengaruh setan. Muhammad tidak sadar akan realita dan berlaku sangat aneh. Ini dicatat dalam banyak hadis, dalam Hadis Sahih Bukhari saja : Vol.4, Buku 54, no.490, V.7 B.71 No.658; V.7 B71 No.661; V.8 B.73 No.89; V.8 B.75 No.400.

Muhammad; utusan terakhir Allah dikuasai setan. Ini keluar dari mulut ‘ummul mukminin’ !

Dia juga membuat kesan Muhammad orang yg sangat pelupa dan kikuk.

Sahih Bukhari Vol.3 Buku 48 No.82
Diriwayatkan oleh Aisya: Sang nabi mendengar seseorang melantunkan Quran di mesjid dan dia berkata, ‘Semoga Allah memberikan ampunan baginya.
 Tak pelak lagi, dia membuatku ingat ayat anu dan surat anu yang telah aku (muhammad) lupakan.

Dia mengungkap hal2 yang dikatakan Muhammad secara pribadi padanya.

Sahih Bukhari Vol.1 Buku 3 no. 128
Diriwayatkan Aswad: Ibn Az-Zubair berkata padaku, “Aisya suka mengatakan sejumlah hal rahasia padamu. Apa yg dia bilang mengenai Kabah?” Aku menjawab, “Dia bilang bahwa suatu waktu sang Nabi berkata, ‘O Aisya! Kalau saja orang2mu masih dekat dengan jaman jahiliyah! Aku akan membongkar Kabah dan kubuat dua pintu; satu utk masuk dan satunya lagi utk keluar.” Belakangan Ibn Az-Zubair melakukan hal yg sama.


Dia membeberkan rahasia urusan pribadi Muhammad (dgn istri2nya).

Sahih Bukhari Vol.3 Buku 47 no. 755
Diriwayatkan oleh Urwa dari Aisya: istri2 rasulallah terbagi dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari
 Aisya, Hafsa, Safiya dan Sauda; dan kelompok lain terdiri dari Umi Salama dan istri2 lainnya….

Hadis ini panjang, silahkan baca sendiri sampai habis, isinya rame.

Dengan semua itu, sangat sulit dipercaya bahwa Aisya bisa disebut Muslim kaffah. Tidak heran kebanyakan kaum Shi’ah memandang Aisya dengan kebencian. Mereka punya gambaran jelek akan Aisya. Ya, mungkin kalian kaget, tapi sekitar 1/10 muslim dunia menganggap Aisya bukanlah muslim dalam pengertian aslinya.

Karena tindakan2nya melawan Imam Ali selama Nabi hidup dan setelah kematiannya (termasuk dalam perang Unta), para pengikut Ahlul Al-Bayt disarankan tidak memakai nama Aisya utk anak2 mereka, ini situsnya
 http://www.al-islam.org/organizations/a ... 00711.html

Ali, menantu Muhammad, pernah menyarankan pada Muhammad utk menceraikan Aisya ketika Aisya selingkuh dengan seseorang bernama Safwan, dan ada bukti2 dalam sumber2 sahih islam yang memastikan bahwa Aisya memendam kebencian karena hal ini terhadap Ali sepanjang hidupnya. Sedemikian benci sehingga Aisya haram menyebut nama Ali sekalipun.

Sahih Bukhari Vol.1 Buku 11 Hadis no. 634
Diriwayatkan oleh Aisya: “Ketika sang Nabi sangat sakit dan penyakitnya bertambah parah dia meminta ijin dari istri2nya utk dirawat dirumahku dan diijinkan. Dia dibawa dg pertolongan dua orang, kakinya terseret di tanah. Dia dipayang oleh Al-Abbas dan seorang lain.” Ubaid Ullah berkata, “Aku bilang Ibn Abbas apa yang Aisya katakan dan dia bilang, ‘Tahukah kau siapa orang kedua yang memayang sang nabi,
 yg Aisya tidak sebut namanya’ Aku bilang, ‘Tidak’. Ibn Abbas berkata, ‘Dia adalah Ali Ibn Abi Talib.’

Lebih parah lagi, kebencian wanita remaja ini berujung pada perang saudara pertama dalam sejarah Islam.
 Jadi perang saudara pertama Islam disebabkan oleh seorang wanita. Dia memimpin pasukan melawan Ali, Kalif Keempat. Tindakannya ini menyebabkan terbunuhnya sekitar 20.000 muslim dalam perang yg belakangan disebut Perang Unta. Tapi apa yang membuat dia melakukan semua itu tanpa memperhitungkan akibatnya? Jawabannya mudah; dia ingin membunuh dua burung dengan satu lemparan batu saja.

Sahih Bukhari Vol.1 Buku 3 no.122
Diriwayatkan oleh Jarir: Nabi berkata padaku ketika Hajjat-al-Wida: Suruh orang2 diam dan dengarkan. Lalu dia berkata (pd orang2), "Jangan menjadi kafir, menjadi tidak percaya padaku dengan saling membunuh satu sama lain.”


Tindakannya ini sangat menggambarkan sikap psikologis Aisya yg menyimpang. Seorang bocah yg beranjak dewasa dalam penganiayaan secara fisik dan seksual, dicerabut dari kenikmatan2 masa kanak2 dan bergabung dalam haremnya Muhammad sementara dia masih suka bermain dengan boneka. Dia tidak bisa membuang derita dan kemalangan yg dia alami dan derita itu mewujud cecara fisik dan psikologis menjadi kebencian. Dan penyaluran utk rasa benci ini adalah perang terhadap Kalif Keempat, Ali ,dan saudara muslimnya sendiri. Dengan ini dia berontak melawan kehendak mendiang suaminya, ‘‘Jangan menjadi kafir, menjadi tidak percaya padaku
 dengan saling membunuh satu sama lain.” Pasukan Aisya pada akhirnya dikalahkan, tapi tetap saja wanita malang ini menyimpan dan membawa kebenciannya terhadap Ali dan muslim pengikutnya selama hidupnya. Dalam Tabari Vol. 7 no. 224 kita membaca bagaimana gembiranya Aisya mendengar kabar kematian Kalifah Ali. 


Kehidupan Aisya Binti Abu Bakar sungguh adalah sebuah tragedi penyelewengan seksual anak-anak diabad ketujuh.

sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/tragedi-aisha-produk-penyelewengan-seksual-anak-abad-7-t35232/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar